Bila Pemimpin Sering Mengeluh…
Februari 3rd, 2010“Pemimpin, dalam level apa pun, tidak boleh sering mengeluh. Itu tantangan menjadi pemimpin. Keluhan cukup disampaikan kepada orang-orang terdekat secara tertutup”
*** Azyumardi Azra ****
Pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanudin Muhtadi dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (3/2/2010) mengatakan, bila pempimpin tidak lebih fokus pada substansi kritikan, bukan pada bentuk kemasan kritikan itu disampaikan, maka bisa jadi pemimpin itu bisa dinilai terlalu reaksioner, dan itu jelas tidak baik, lebay (berlebihan-red) dan kontraproduktif.
Dengan keluhan yang overdosis malah akan jadi bumerang dan bisa menimbulkan kemuakan, rasa khawatir dan malah muncul sinisme.
Contohnya jelas ada, dan tak jarang kita temukan profil seperti itu dalam keseharian di lingkungan terkecil kta.
Alkisah, ada seorang pemimpin yang kerjanya sering mengeluh. Saking sering mengeluhnya pemimpin tersebut, hampir setiap tahun dia ganti sekretaris. Sekretaris yang terakhir malah terlibat intrik-intrik politik kantor secara terbuka kepada hampir semua staf.
Fokus pemimpin yang lebih pada ”keluhan”. ”kenapa sih disini begini”, dan pada pekerjaan-pekerjaan harian, budget rutin, checklist, weekly activity report dan berita-berita recehan yang secara substantif tidaklah penting, jelas itu pemimpin yang tidak profesional. Akibat kesibukan dengan keluhan-keluhan itu, tanpa disadarinya pemimpin tersebut bisa terjebak pada kubangan layaknya ”buruh harian”, dan bukan pada master plan, blue print, atau gebrakan inovatif serta koordinasi dengan peer group dan mitra kerjanya yang bisa mengubah keadaan dan meningkatkan service level divisinya.
Alhasil, soliditas tim jadi hancur. Kesetiaan pada profesi luntur dengan sendirinya. Semua staf bekerja dengan standar. Cukuplah pada hasil rata-rata saja dan memenuhi kebutuhan minimal yang harus dijalankan. Yang ada adalah pencitraan dengan memanfaatkan kasus-kasus kecil kemudian di-blow-up sehingga mendapat atensi dari manajemen,
Kalau pun hasilnya cukup bagus selama ini, maka semua itu jelas karena kontribusi dari stafnya yang terlatih dengan pengalaman dan smart-street-nya, dan samasekali bukan karena ide baru atau konsep baru yang memiliki nilai jual yang bernilai tambah bagi stakeholder-nya.
Kalau sudah begini, dan dengan reputasi dan kredibilitas seperti itu, layakkah pemimpin seperti itu dipertahankan?