Krisis Energi dan Manajemen Resiko
Saat pulang kerja saya ke rumah ibu, dua kakak saya sibuk mengisi bak mandi dan berbagai tempat penampungan air. Mulai dari yang besar hingga ember-ember kecil. Di rumah saya sendiri, dalam waktu yang bersamaan, istri saya sibuk men-charge UPS, Handphone dan membuat air panas untuk 2 thermos. Maklum, kalau masih ada baby seumur 17 bulan, kebutuhan akan air panas untuk mandi dan buat susu, masihlah sangat banyak.
Pada saat saya tanya mereka, serentak kedua kakak saya menjawab, “Ayo cepet bantuin, besok listrik mati cukup lama, ada pemadaman bergilir…”. Untung kedua kakak saya dan istri saya sudah tahu sebelumnya, bagaimana kalau tidak tahu. Namun kita pun tidak tahu betapa cukup banyak kerepotan dan kerugian yang didapatkan saat listrik padam. Baik yang dialami oleh PLN sendiri, dunia usaha dan masyarakat luas. Pasti tak terkira harganya.
Para ahli dan pemerhati energi, sepetinya belum sepakat dan masih pro-kontra bahwa sudah mendesak rasanya kita perlu membangun pembangkit listrik di pusat-pusat lumbung energi nasional, seperti di mulut tambang batu bara dan di wilayah minyak. Dengan mendekatkan pembangkit listrik ke lokasi tambang terdekat (semisal di Kaltim, Kalsel dan Sumsel) dan didistribusikan pengirimannya melalui kabel bawah laut dan melalui jaringan interkoneksi, tak ada lagi alasan kita mendapatkan pemadaman bergilir karena faktor cuaca dan gangguan iklim.
Banyak manfaat yang bisa diambil bila pembangkit listrik dibangun di Kaltim, Kalsel, Sumsel, Riau, Kalteng, Bengkulu dan Sumbar misalnya. Pertama, menghemat ekonomi biaya tinggi karena tingginya harga bahan bakar minyak. Kedua, hak masyarakat sebagai konsumen terjamin dan tidak banyak dirugikan. Ketiga, menstimulasi iklim inverstasi dan pertumbungan ekonomi di wilayah pusat pembangkit. Keempat, membuka lapangan pekerjaan. Kelima, memenuhi kebutuhan listrik yang mana beberapa wilayah saat ini masih berstatus krisis (al. Aceh, Sumut, Pontianak, Kalsel, Kalteng, Mahakam, Sulut, Sulteng, Gorontalo, Sulsel, Sultra.Sulbar, Ambon, Jayapura, Lombok dan Kupang).
Alasan produksi setrum dari PLTU yang merosot tajam gara-gara pasokan batu-bara yang terhambat karena gelombang tinggi, kita sangat harapkan tak terjadi lagi. Cukup jadi catatan sejarah saja. Bukankah bangsa yang besar adalah yang bangsa yang belajar dari sejarahnya sendiri ?
Atau, kita tidak menerapkan manajemen resiko dalam menghadapi krisis energi ini ? Atau… kita masih alergi dengan wacana dan rencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir nanti ?