Halaman Utama


Kenaikan BBM : Menyengsarakan Semua Orang?

Hari Jum’at tangga 23 Mei 2008 merupakan salah satu hari yang bersejarah bagi Indonesia, karena pada hari itu diumumkan kenaikan harga BBM. Kita semua tentu tahu akibat dari pengumuman tersebut. Antara lan pada kenaikan harga kebutuhan pokok, kenaikan tarif angkutan, dan lain sebagainya.

Penulis sendiri merasa keberatan dengan naiknya harga BBM, karena tidak dibarengi dengan kenaikan gaji (lagi) dan kucuran bonus (lagi).

Untuk mengantisipasi gejolak / masalah sosial yang muncul, bersamaan dengan pengumuman tersebut Pemerintah juga menyampaikan langkah-langkah yang diambil. Seperti program BLT, pasar murah, smart card, dan lain sebagainya. Banyak orang yang menilai langkah yang diambil pemerintah kurang memadai, hanya menguntungkan jangka pendek, dan tidak berpihak pada rakyat.

Sebenarnya benarkah kenaikan harga BBM menyengsarakan? Dalam jangka pendek ya!

Jika kita melihat jangka panjang atau istilah kerennya “the other side of the coin”, maka akan dapat kita lihat berbagai nilai positif yang ditimbulkan. Ambil contoh Bapak Joko dari Madiun. Beliau berhasil menemukan bahwa air dapat digunakan sebagai bahan bakar. Sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain, bahkan mungkin para mahasiswa yang berdemo! Dengan bahan bakar yang bebas polusi dan tidak tergantung kepada harga minyak dunia, Indonesia akan menjadi negara di Asia Tenggara yang bersih dan membantu mengatasi masalah “Global Warming” dalam hal transportasi.

Kenaikan harga BBM akan memaksa kita untuk mengatur keuangan lebih baik lagi. Hal ini tentunya sulit bagi karyawan yang berpenghasilan pas-pasan atau rendah. Tetapi kita akan mulai kembali menata apa sebenarnya yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Penyaluran BLT yang tidak mencapai sasaran atau banyak yang tidak mendapatkan, tentu saja dapat kita gunakan sebagai bahan pelajaran bagaimana cara mengatasinya agar jangan sampai terulang di kemudian hari.

Selama ini kita sudah berada di zona nyaman. Sejujurnya, dengan kenyamanan kita, apa yang sudah kita capai? Inovasi apa yang sudah bangsa ini hasilkan? Perekonomian dunia lebih banyak dikuasai oleh negara di mana tidak ada subsidi, sehingga warga negara dipaksa dan diberi kebebasan untuk berinovasi dan menemukan hal-hal penting yang memiliki nilai kompetitif di masa yang akan datang.

Untuk pembangunan yang berkelanjutan, dan berorientasi pada semangat kebangsaan untuk memerdekakan bangsa ini dari berbagai ketidakmandirian.

Penulis bukan ingin mendukung pemerintah (apalagi mendekati pemilu nih), namun ingin mengajak pembaca sekalian untuk mencoba merenung. Melihat dari sisi lain setiap masalah, dalam Islam istilahnya “Mengambil hikmah dari setiap hal buruk yang menimpa kita”.

Penulis :

Frizal Ramayanta – Pemerhati Retail Risk Management

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.