Apakah Gempa Tasik Mengusik Kesejatian-diri Kita?
Gempa Tasikmalaya 02 September 2009 sungguh mengejutkan.
Gempa 1 : 14.55 WIB – 7,3 SR / VII MMI kedalaman 30 km
Gempa 2 : 15.15 WIB – 5.1 SR kedalaman 38 km
Gempa 3 : 16.28 WIB – 5,4 SR kedalaman 15 km
Pusat gempa berkisar di bawah dasar Samudra Indonesia / 142 km sebelah barat daya Tasikmalaya / pantai selatan Jawa Barat.
Dari berbagai sumber, diperoleh data sbb.:
Korban luka : 926 orang, 74 tewas, luka berat 370 orang, luka ringan 1098 orang, pulugan orang masih menjalani rawat inap, dan 34 orang masih dicari, dan kerusakan 2017 rumah hancur, 83.628 rumah rusak ringan, dan 42.507 rumah rusak berat. Selain itu, 2245 mesjid rusak, 194 pesantren, 196 kantor, dan 1038 sekolah di Jabar roboh.
Jumlah pengungsi 30.963 orang, tersebar antara lain di Tasikmalaya 450 orang, Kab. Kuningan : 180, Kab. Ciamis : 100, dan Kab Cilacap : 2.388.
Sebaran dampak gempa terjadi di belasan kota di Jawa Barat. Dilaporkan ribuan rumah rusak, puluhan lainnya dikhawatirkan tertimbun reruntuhan.
• Kab. Bandung : 16 tewas. Korban tewas tersebar di Pangalengan, Banjaran, Cimaung dan Kertasari, 10 gedung kantor roboh. Kondisi terparah terjadi di kecamatan Pangalengan dengan 8592 rumah rusak berat. Data dampak gempa di Bandung, korban luka : 363, rumah rusak berat : 15086, rusak sedang 6627, dan rumah rusak ringan : 25.079, sementara sekolah rusak 83, mesjid rusak 301. Fasilitas umum yang rusak 375, termasuk sejumlah kantor desa dan kecamatan serta dinas juga rusak.
• Bandung Barat : 1 tewas, 21 luka, 4952 rumah rusak, 72 fasilitas umum rusak.
• Banjar : 365 rumah rusak.
• Kab Bogor : 2 orang tewas, 9 luka, 707 rumah rusak. 10 menit sebelum terjadi gempa, gajah dan Ilama di Taman Safari Cisarua dilaporkan gelisah
• Ciamis : 6 tewas, 158 luka, 19457 rumah rusak dan 357 fasilitas umum rusak.
• Cianjur : sedikitnya 29 tewas, luka-luka : 5, orang hilang 34 tertimbun tanah longsor. 2792 rumah rusak, sementara 97 fasilits umum rusak. Desa yang terkena gempa al. Jayagiri, Sukaramai, Sukalaksana, Gunungsari dan Sukanagara.
• Cilacap : 1295 rumah rusak, diantaranya 98 rata dengan tanah, 220 bangunan rusak berat, 282 rusak ringan, 2 balai desa roboh, 6 bangunan pasar rusak berat, pengungsi : 2388.
• Cirebon : Pusat grosir cirebon rusak ringan, 3 pengunjung pingsan
• Garut : 10 orang tewas, 68 luka-luka. Lokasi terparah di Pamalayan & Cikelet Kec. Cikelet; Mancagahar & Neglasari Kec. Cisompet; Mandalakasih Kec. Pameungpeuk. Luka berat 11 orang, luka ringan 57, rumah rusak 18.428, fasilitas umum 619, diantaranya sekolah rusak 298, masjid rusak 160.
• Jakarta : 1 meninggal karena serangan jantung, 60% pasokan air baku terhenti karena pipa air PAM Lyonnaisse Jaya pecah. Luka karena panik, shock, gemetar, kelelahan, jatuh dan terinjak-injak saat evakuasi cukup banyak. Tercatat di RSJ : 18 orang, 5 di Sawangan, 8 di MMC, 5 di RS Pertamina. Sejumlah gedung perkantoran mengalami keretakan dan kerusakan kecil, seperti kaca pecah, ubin/granit dinding/ keramik tergeser.
* Kab. Kuningan : Gempa merusak 346 rumah tersebar di 8 kecamatan : Darma, Kadugede, Cilebak, Ciwaru, Karang Kencana, Selajambe, Subang, dan Ciniru. Jumlah pengungsi : 180 orang. Fasilitas umum yang rusak : 7.
• Majalengka : 340 rumah rusak, 38 diantaranya rusak berat.
• Purwakarta :16 rumah rusak, 52 fasilitas umum rusak.
• Sukabumi : 3 tewas, 15 luka-luka, 4250 rumah rusak, diantaranya 399 rumah runtuh, dan fasilitas umum : 145
• Kab. Tasikmalaya : 9 tewas, luka berat 29, luka ringan 60, 54.195 rumah rusak berat dan 116.000 rumah rusak ringan. Kerusakan juga menimpa 1447 fasilitas umum. Lokasi terparah di Kec. Cigalontang, Cisayong, dan Bantarkalong.
* Kota Tasik : 5 tewas, 22 luka, 5294 rumah rusak, dan 103 fasiltas umum rusak.
• Gempa dirasakan hingga Semarang, Jogja, Denpasar, DKI Jakarta, Tangerang.
Jelas, alam sedang mencari keseimbangannya.
Kini, apakah kita sebagai manusia juga tengah mencari keseimbangannya dengan lebih mendekatkan diri pada-Nya? Apakah kita kan mengulurkan tangan, perhatian dan kemampuan kita pada saudara-saudara kita yang tertimpa duka dan derita?
Sambil berlinang dan tergopoh-gopoh, seorang ibu merasa tak enak firasatnya. Ia terus saja mencari-cari dan terus memanggil anaknya, “Ya Allah, dimana anakku”. Dan tak lama kemudian, dia mendapati anaknya sudah tak bernyawa. Sementara jenasah lainnya banyak yang tak utuh. Potongan tubuh nampak tersembul diantara tumpukan tanah dan batu.
Saya jadi ingat cerita istri saya kemarin saat istri saya ketemu Ibu Rita, tetangga kami di sebelah. Dengan setengah menahan tangis saat ia mengantarkan jenasah tetangganya yang meninggal dunia, ia berkata : “Ibu-ibu, hanya ini yang kita bawa. Hanya inilah yang kita bawa”, sambil menunjukkan selembar kain kafan. “Ya, hanya inilah kita bawa!”, ulangnya dengan nada agak meninggi. “Rumah bertingkat, mobil mengkilap, keluarga yang kita cintai, namun hanya ini yang kita bawa…”
Amal baik dan ketaqwaan kita pada sesama dan kepada-Nya yang akan kita bawa….