Belajar dari pasca gempa Padang, begitu banyak hal yang bisa kita petik sebagai pelajaran dan pembelajaran kedepan. Salah satu hal yang perlu kita soroti adalah apa yang harus dilakukan setelah Tim Tanggap Darurat selesai melakukan tugasnya.
Bagi perusahaan yang memiliki outlet yang kebetulan gedungnya mengalami kerusakan yang berat karena gempa bumi misalnya, adalah masalah birokrasi atas tindak lanjut pasca gempa biasanya nampak mengemuka.
Masalah klasik pada proses recovery pasca gempa pada gedung pusat perbelanjaan adalah pada masalah koordinasi. Baik itu koordinasi internal, maupun juga koordinasi dengan eksternal.
Birokrasi yang lamban, cenderung tidak mau repot dan rumit untuk tidak mau dikatakan saling lempar tanggungjawab, adalah salah satu tantangan Risk Management dalam menangani proses dan mengakselerasi recovery pasca bencana.
Birokrasi yang tidak luwes dan tidak peka dengan para pekerja yang masih berada di lapangan, kiranya tidak akan pernah terjadi bila para pemangku kepentingan duduk bersama dan cepat membahas bagaimana mengakselerasi proses recovery untuk semua kepentingan yang terlibat.
Lambannya keputusan yang jelas hanya karena kurang atau tidak ada koordinasi di tingkat pusat, biasanya akan berdampak pada semangat kerja orang-orang yang masih berada di lapangan.
Bila gedung yang kita tempati itu rusak sebagian namun tidak layak operasional, kerusakannya parsial, kepemilikannya bukan kepemilikan tunggal, dan dalam sebuah perusahaan ada unit bisnis yang berbeda yang mana manajemen operasionalnya juga berbeda, maka otomastis koordinasi intensif haruslah dilakukan.
Untuk itu, selain adanya Tim Tanggap Darurat, Divisi Risk Management juga harus segera membentuk Tim Recovery, segera setelah Tim Tanggap Darurat akan mengakhiri masa kerjanya.
Hanya saja, bila ini menyangkut berbagai pemangku kepentingan, maka setidaknya perlu disiapkan beberapa langkah proaktif hal dibawah ini oleh Divisi Risk Management.
LANGKAH #1.
BENTUK TIM RECOVERY
Struktur “komando” dari Corporate, Unit Bisnis dan Departemen terkait harus jelas tercantum. Mencakup struktur, tugas, tanggungjawab, wewenang dan prosedur/tahapan dan target kerjanya.
- Prinsip utama : keamanan, keselamatan dan proses kehati-hatian harus menjadi prioritas dan concern utama semua anggota team.
- Koordinasi dengan unit bisnis lain harus dilakukan intensif. Seperti batas waktu jadwal per tahapan recovery, dan hal-hal teknis lainnya.
- Persiapan administratif dan persiapan teknis harus jalan bersamaan. Persiapan administratif proses claim asuransi disiapkan oleh Finance & Asuransi untuk disampaikan ke Loss Adjuster, dan persiapan teknis recovery disiapkan oleh Risk Management.
LANGKAH #2
DAPATKAN KONDISI TERAKHIR LOKASI KEJADIAN
Yaitu dengan meminta masukan dari tim yang masih berada di lapangan, meminta masukan dari Tim Tanggap Darurat, dan Tim Audit Struktur Konsstruksi untuk kasus gempa bumi) dan mempresentasikan hasil dan kondisi di lapangan.
Sebelum melalukan evakuasi barang, kita perlu mengetahui bagaimana hasil audit konstruksi dari konsultan independen mengenai kerawanan gedung dan konstruksinya.
1. Apakah gempa besar susulan pasca audit construksi perlu dibuatkan kembali paparan kondisi terakhir kondisi gedung dan konstruksinya?
2. Apakah ada saran atau masukan dari konsultan, bagaimana cara aman untuk mengevakuasi barang & fixed aset dari dalam gedung. Dari sisi dan lantai mana evakuasi relatif aman dilakukan?
LANGKAH #3.
DAPATKAN GAMBARAN AWAL
ATAS PROSES & DETAIL CLAIM ASURANSI
Antara lain dengan mengundang meeting dengan pihak asuransi (loss adjuster) dan kemudian buat perencanaan secara garis besar dengan menyusun Tim Teknis, Tahapan dan prosedur cepatnya.
LANGKAH #4.
SELESAIKAN PEKERJAAN RUMAH TERLEBIH DAHULU
Siapkan beberapa data :
1. Luas unit kerja tipe unit kerja, data karyawan terakhir (nama, NIK, jenis kelamin, jabatan)
2. Layout barang dagangan
3. Layout fixtures / perlengkapan kantor cabang
4. Layout Mechanical / Electicity
4. Prakiraan uang cash baik itu di Ruang Brankas, Ruang Finance, Cash Register maupun uang, barang dan dokumen berhargadi back office. Dapatkan pula data uang Modal Kassa, Uang Kecil Kassa, Kas Kecil, Stock Gift Voucher dan Stock Kupon Belanja yang belum dievakuasi.
5. Mintakan aturan main pengambilan uang untuk keperluan pelaksanaan perbantuan klaim untuk recovery kantor cabang. Biasanya aturan yang diberlakukan adalah sebagai berikut:
a. User mengambil Bon Sementara di Finance
b. Coding yang digunakan adalah dikeluarkan resmi oleh Dept. Finance & Accunting.
c. Ditandatangani oleh Direktur yang bersangkutan.
d. Permintaan pengambilan uang minimal 3 hari dari tanggal penyerahan dokumen Bon Sementara.
e. User diharuskan untuk membuat laporan pertanggungjawaban atas segala biaya yang terjadi dan setiap kelebihan/kekurangan harus dipertanggungjawabkan.
6. Data Fixed Asset “as of” pada bulan kejadian,
7. Data Income Statement yang actual pada satu tahun terakhir pada bulan kejadian.
8. Stock Merchandise (Rekapitulasi Persediaan Barang Per Departemen per bulan kejadian.
9. Data barang konsinyasi (consignment) dan beli putus (direct purchase) lengkap dengan layout brand/merk/list of brabd serta dengan nama distributor, PIC, HP dan keterangan barang yang termasuk diasuransikan atau pun tidak.
10. Data barang tenant (per brand/merk dan jumlahnya, seperti : ATM, antena provider, dll)
11. Cari kontak lembaga yang memiliki tenaga profesional untuk evakuasi barang & fixed asset yang kredibel oleh LP & Security Dept.
12. Koordinasikan dengan bagian Developer Relation (tembusan ke Tenant & Leasing, Regional Command, Branch Manager) untuk memberitahukan bahwa Tim Recovery akan berkunjung ke lokasi pada tanggal yang telah ditentukan.
LANGKAH #5.
LAKUKAN KUNJUNGAN KERJA BERSAMA
Kunjungan kerja lintas departemen (Crisis Management, Loss Prevention & Security Dept, Maintenence, Asuransi, Loss Adjuster dan unit kerja di bisnis lain) ditujukan untuk melihat kondisi terakhir bagaimana kondisi dan situasi terkini di lapangan.
Tim dari pimpinan lintas departemen ini diharapkan adalah tim yang memiliki otoritas penuh untuk memutuskan hal teknis di lapangan.
LINGKUP PEKERJAAN LOSS PREVENTION & SECURITY
1. Persiapan : Luas unit kerja, Tipe unit kerja, PIC di lapangan, Layout barang dagangan, Layout fixtures / perlengkapan kantor cabang, Data Fixed Asset terakhir, data stock Merchandise (Rekapitulasi Persediaan Barang) Per Departemen per bulan kejadian, data finance (modal kassa, uang kecil kassa, kas kecil, stock gift voucher dan stok kupon)
2. Menentukan dan melihat kedalam gedung dan koordinasikan dengan Loss Prevention Regional, Store Command, Supervisor dan Teknisi.
3. Menilai prakiraan tingkat kesulitan evakuasi dari Ruang Brankas, Ruang Finance, Ruang Back Office dan Locker Karyawan.
4. Menentukan jumlah personil yang dibutuhkan untuk mengevakuasi uang cash dan dokumen/surat penting lainnya.
5. Menentukan tenaga professional dari pihak ketiga (outsourching) yang akan mengevakuasi uang cash, menentukan prosedur dan tahapannya, dan pengamanannya (pendataan orang yang akan masuk, dan check body kembali saat keluar gedung). Hitung : jumlah tenaga yang dibutuhkan, biaya kontrak, lingkup kerja, lamanya pekerjaan dan siapkan MOU kontrak kerjanya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana Propinsi, atau Satkorlak Kota bisa dijadikan salah satu referensi untuk dijajaki dalam proses mengevakuasi barang, fixture & fixed asset lainnya.
6. Mencari kunci laci uang cash register. Dapatkan data tipe dari mesin cash register dari Dept. IT. Bila memungkinkan, pinjam kunci mesin cash register dari kantor cabang lainnya.
7. Setelah mengevakuasi uang dan dokumen penting, tunjuk buat dan tunjuk Tim Evakuasi dan Tim Pengaman Merchandise / Fixed Asset (lengkap dengan Security). Hitung dan tentukan : jumlah personil yang dibutuhkan, durasi pekerjaan, MOU / kontrak kerja dan keselamatan, serta biaya evakuasi.
8. Tentukan Tim Kuli Angkut dari luar gedung ke Truk dan menurunkannya di tempat penampungan. Penting : pengamanan barang saat diluar gedungm selama proses angkut dan pengamanan tempat penampungan (di warehouse)menjadi tanggungjawab Dept. Loss Prevention & Security.
LINGKUP PEKERJAAN MAINTENANCE
1. Persiapan Dept. Maintenace : Luas unit kerja, Tipe unit kerja, PIC di lapangan, Layout barang dagangan, Layout fixtures / perlengkapan kantor cabang, layout M/E, Data Fixed Asset terakhir, data stock Merchandise (Rekapitulasi Persediaan Barang) Per Departemen per bulan kejadian.
2. Melihat secara sekilas kedalam gedung dan koordinasikan dengan Maintenance Regional.
a. Batasi jumlah personil yang masuk untuk kemudahan pengawasan dan keamanan, Tetapkan personil yang akan masuk gedung : Head of maintenance, Maintenance Regional, Teknisi Toko, Asuransi dan Store Command.
b. Lakukan dengan cepat untuk mengantisipasi adanya gempa susulan sehubungan masih berpotensinya ada gempa susulan atau proses pelapukan atau kelelahan bahan/metal yang sewaktu-waktu bangunan bisa rubuh.
3. Menilai prakiraan volume dan prosentase fixture & fixed asset yang akan dievakuasi.
4. Menentukan tim pelaksana evakuasi : jumlah personil yang dibutuhkan untuk mengevakuasi fixed asset.
5. Memberikan tanda pada fixture & fixed asset yang akan dievakuasi baik yang layak/kondisi bagus maupun yang masih bisa diperbaiki dengan cat semprot Fluorescent atau dengan mengikatkan tali rapia berwarna kuning yang sudah dipersiapkan untuk diangkut keluar gedung. Sementara untuk fixture & fixed asset yang rusak, tidak perlu didata dan biarkan di tempat.
6. Mencari lokasi penampungan barang (dapatkan 2 s/d 3 tempat alternatif). Bila tidak ada tempat atau misalnya harga tempat penampungan itu mahal seperti harus disewa minimal 2 tahun, pertimbangkan sewa container dan sewa lahan.
a. Dapatkan PIC dan telepon/HP pemilik lahan / warehouse
b. Luas daya tampung lahan / warehouse, harga sewa, fasilitas, cara pembayaran, jangka waktu penyewaan, kelayakan tempat penampungan dan keamanan tempat penampungan.
7. Koordinasikan dengan Distributor Center, atau cari kontak lembaga yang memiliki tenaga profesional untuk evakuasi barang & fixed asset yang kredibel. Bagian DC menentukan jumlah kuli-angkut yang menaikkan barang ke truk pengangkut.
8. Memastikan kembali bahwa tim pelaksana teknis telah dan mampu bekerja efektif sesuai jadwal pekerjaan yang telah ditentukan.
9. Koordinasikan kembali detail pekerjaannya dengan petugas di lapangan.
10. Laporkan alamat lokasi tempat penampungan, luas / daya tampung, durasi penyewaan, pengamanan & keamanan tempat penyewaan (termasuk penerangan di malam hari) dan biaya total proses evakuasi merchandise, fixture & fixed asset.
LANGLAH #6.
CARI GUDANG PENAMPUNGAN
Cari gudang tempat penyimpanan barang & fixed asset.
- Tentukan PIC/leadernya
- Tim pelaksananya
- Lokasinya/alamatnya
- Luas daya tmpungannya
- Fasilitasnya
- Keamanan dan pengamanannya (terutama di malam hari)
- Durasi/lamanya sewa
- Harga sewanya (per bulan), dan
- Total biaya sewanya.
LANGKAH #7.
SIAPKAN ARMADA ANGKUTAN.
Serahkan masalah ini ke Distribution Center.
- Tunjuk leadernya
- Tim pelaksananya
- Durasi dan jadwal pengangkutannya
- Hitung berapa banyak truck/container yang dibutuhkan
- Pengawalan pengamanan perjalannya dari lokasi gedung ke gudang penyimpanan sementara, dan
- Jumlah serta ukuran box barangnya (untuk merchandise, perlengakapan IT, dlsb).
- Hitung berapa biaya total angkutannya.
Hal teknis : barang yang dikemas nantinya harus disegel per box, diberi penamaan nomor barangnya, detail isinya dan jumlahnya. Kemas dengan baik, tutup rapat dan segel.
Bagian Perbekalan dan Angkutan dari Angkatan Darat, Direktorat Logistik Polda dan AURI, bisa dijadikan salah satu rerensi bila pihak Distribution Center mengalami kendalai untuk mengangkut/mengevakuasi barang, fixture & fixed asset.
Tempat penyimpanan atau tempat mensortir / mendata juga bisa meminta bantuan pada 3 lembaga diatas.
LANGKAH #8.
LAKUKAN EVAKUASI BARANG & FIXED ASSET.
Untuk melakukan evakuasi, tunjuk tim tenaga profesional untuk mengevakuasi barang & fixed asset. Bisa dengan meminta kepada :
- BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Propinsi
- BPNP Propinsi / Satkorlak Propinsi,
- Perusahaan jasa konsultan konstruksi
- Atau bila sulit dicari terutama bila lokasi gempa ini terjadi di daerah, serahkan saja masalah ini pada Security Outsourching yang ditunjuk oleh Departement Security. Lengkapi juga dengan surat perjanjian / pertanggungan keselamatan, bila sewaktu waktu terjadi kecelakaan atau pun korban (meninggal).
Proses pemindahan barang, dengan memprioritaskan berturut-turut pada :
- Uang tunai. Catat berapa uang yang bisa diselamatkan.
- Mesin Register. Catat berapa nilai uang yang bisa diselamatkan dari setiap mesin register.
- Surat dan dokumen berharga di back office (surat-surat penting, perhiasan, jam tangan, ijasah di locker karyawan. Isi dari meja-meja di back office juga harus diperiksa yang mungkin ada yang masih berharga.
Uang tunai yg dievakuasi dihitung terlebih dahulu di depan Cash In Transit Company yangg ditunjuk (sebelum diangkut dan disetor oleh CIT Company) dan dibuatkan berita acaranya di depan saksi-saksi..Sedangkan untuk Voucher dan Kupon Belanja, harus dibawa balik ke kantor pusat setelah dibuatkan berita acaranya. Khusus untuk evakuasi Uang cash dan dokumen berharga dipimpin oleh Head of Loss Prevention & Security Dept.
- Mesin ATM dan antene provider GSM. Koordinasikan ke Tenant & Leasing Dept untuk evakuasi mesin ATM. Buat surat & MOU bahwa segala resiko berkait dengan evakuasi mesin ATM ditanggung oleh pihak tenant / bank yang bersangkutan.
- Peralatan IT (server, komputer). Ambil perlengkapan yang masih baik dan yang bisa diperbaiki, dan tinggalkan yang sudah rusak namun tidak bisa diperbaiki.
- Merchandise. Ambil merchandise yang masih layak (masih bagus) dan tinggalkan yang tidak layak/cacat, kemudian angkut ke tempat penampungan (warehouse) dan dipilah antara Direct Purchase dan Consigment Vendor, serta data per dept, merk dan quantyy-nya
- Fixture dan Fixed Asset lainnya. Seperti juga untuk perlengkapan IT, fixture dan asset yang dievakuasi adalah yang masih baik dan yang bisa diperbaiki, dan tinggalkan yang sudah rusak namun tidak bisa diperbaiki. Evakuasi peralatan IT, merchandise, dan fixed asset lainnya, lead-nya dibawah Maintenance Dept.
- Foto-foto tahapan penting selama proses pekerjaan.
Sebagian perusahaan asuransi ada yang mengambil kebijakan dengan memutuskan agar pemilih hanya mengambil barang yang masih layak jual saja, dan sisanya akan dibeli oleh perusahaan asuransi yang ditunjuk.
Untuk memindahkan merchandise, fixture & fixed asset lainnya, dan kemudian dilakukan pemisahan antara yang layak dan tidak layak oleh tim LP & Maintenence dilakukan di luar geung di tempat terbuka dan aman. Salah satu tempat yang yang bisa dijajagi adalah di sekitar area lapangan di bandara udara. Jangan lupa, dapatkan foto dokumentasi lengkap.
Pemisahan barang untuk ritel fashion misalnya, cukup dikategori per Departemen, Laki-Laki/Perempuan dan nama Merk-nya saja.
LANGKAH #9.
LAPORAN KE RISK MANAGEMENT
Laporan lengkap ke Risk Management Unit Bisnis dan Risk Management Corporate.
LANGKAH #10.
VERIFIKASI ASSET OLEH LOSS ADJUSTER
Undang Loss Adjuster ke Head Office untuk mendata ulang di lapangan. Tentukan tanggal dan pastikan yang hadir ada dari Dept. Risk Management. Maintenance & Asuransi.
LANGKAH #11.
SELESAIKAN PROSES CLAIM ASURANSI
Pertimbangkan nilai kerugian dari : Bisnis Interuption, Kerugian Fixed Asset (equipment, instalasi, vehicle) dan nilai Renovation-nya (catatan terakhir nilai renovasi). Masing-masing angka yang dikeluarkan terinci nilai Cost-nya, akumulasi penyusutannya (ACCM) dan nilai NBV-nya.
PENUTUP
Dalam praktiknya, proses recovery dan evakuasi barang dan fixed asset pasca gempa bumi dengan kategori kerusakan parsial, tentu saja tidak sesederhana ini. Namun catatan diatas setidaknya, bisa jadi pijakan awal bagi kita untuk menyempurnakannya di lapangan dan kesiapan kita di masa yang akan datang.
Proses recovery pasca gempa bumi, bisa saja sulit. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa kan? Jangan-jangan, karena kita belum berpengalaman maka kita butuh pembelajaran, agar kita siap di masa yang akan datang.
Dengan merencanakan secara rinci, sistematis dan jelas tahapan recovery selanjutnya, maka orkestra koordinasi untuk mengakselerasi recovery paska gempa akan tercapai dengan apik, baik dan efektif.
*****