Produk-produk impor berharga murah, hingga bisa lebih murah s/d 40% dari harga ”normal” pasar, kini mulai semakin membanjir di pasaran. Kita sendiri tetap perlu proaktif mensikapinya, antara lain karena produk impor murah disinyalir berpotensi membahayakan kesehatan.
Meski beberapa produk asal Cina diduga bermasalah, kita pun perlu belajar banyak : “carilah ilmu sampai ke negeri Cina” bagaimana Cina bisa menjual produknya dengan harga murah.
Koran Tempo (31/01/10) menjelaskan rahasia murah barang Cina dikarenakan 7 hal : peran UKM dimaksimalkan, infrasttruktur mendukung, insentif ekspor dengan bunga kredit rendah 3-6% dan subsidi pemotongan pajak 9-17% , produktivitas buruh tinggu, volume produksi besar sehingga ongkos produks dapat ditekan, regenerasi mesin tua dengan teknologi modern, dan dukungan industri komponen yang diproduksi di dalam negeri sehingga biaya komponen bisa murah.
Kembali pada masalah produk impor murah, hingga kini sejumlah pihak masih mengawasi guyuran produk-produk impor murah, antara lain :
- Direktur Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Dirjen Kementrian Perdagangan
- Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
- Asosiasi Pertekstilan Indonesia, dan
- Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia
- Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif dan Tradisional Indonesia
- Komisi Tetap Usaha Kecil & Menengah KADIN
Meski Standard Nasional Indonesia (SNI) belum sepenuhnya memproteksi semua jenis barang impor, seperti SNI kain lapis karpet dan SNI untuk mainan anak, namun kita tetap perlu dan berkewajibab untuk memproteksi bahaya kandungan materian yang mungkin ada di produk impor murah itu.
Beberapa contoh produk impor murah yang bermasalah dan diragukan mutunya, terbukti dari hasil uji labolatorium berpotensi berbahaya bagi kesehatan. Antara lain :
#1. Produk mainan anak seperti mainan jenis mobil dan bola yang catnya mengandung zat kimia berbahaya merkuri dan timbal (timah hitam) yang lebih tinggi dari standar yang telah ditetapkan, dan mengandung yang bila masuk ke mulut anak-anak, bisa membahayakan kesehatan anak-anak antara lain merusak sistem dan keracunan akut pada otak, saraf, serta pembuluh darah, menurunkan tingkat kecerdasan, dan kesehatan. Badan Standarisasi Mainan Dunia merekomendasikan batas kandungan logam berat timbel 90 miligram per kilogram, namun kandungan timbel rata-rata produk mainan impor murah 300-400 miligram per kilohram berat, atau setara 4 kali lipat dari standar yang telah disepakati !
#2. Produk karpet murah dengan kualitas buruk dimana komposisi zat kimia yang digunakan dalam proses pembuatannya tidaklah jelas.
#3. Produk kosmetik, yang mengandung zat-zat berbahaya seperti merkuri, hidrokinon, asam retinoat, serta rhodamine B (zat perwarna sintetis untuk kertas dan tekstil).
#4. Perhiasan untuk anak-anak yang mengandung kadmium (unsur kimia logam berat untuk menggantikan bahan yang lebih mahal) sampai 91%.
#5. Pasta gigi yang mengandung bahan kimia berbahaya diethelene glycol (DEG) yang bisa menyebabkan depresi sistem saraf pusat, keracunamn hati pada hati, serta gagal ginjal.
#6. Peralatan makanan berbahan plastik yang banyak mengandung formalin. Produk Cina yang diduga bermasalah antara lain bermerek : Sayota Melamine Ware, Melamine ADS Ware, Zak Desing China, IM 508, Huafeng, J.K, Huamei, dan beberapa produk tanpa merek namun hanya tertulis ”made in China”.
#7. Aneka produk dari Cina yang mengandung melamin. Diantaranya yogurt merek Jinwei Yoguoo, susus full cream merek Guozhen, Indo Eskrim Meiji Gold Monas, wafer stik Oreo, permen cokelat susu M & Ms, biscuit lapis cokelat Snikers. Melamin sengaja dioplos dengan susu untuk meningkatkan kadar protein.
#8. Sejumlah produk sandal & jamu impor pun disinyalir tidak memenuhi standar mutu dan kesehatan.
Masalahnya sekarang, bila barang-barang itu masih ada di stock (atau stockroom) kita, maka kita harus segera menarik produk itu dari stock / pasar, sebelum reputasi dan kredibilitas kita di mata stake holder dan masyarakat dipertaruhkan !
Sumber : Koran Tempo, 310110, 270210 & 010310.