Halaman Utama


Archive for the ‘1nspirAction’ Category

Saat Mengejar “Jumlah”, Hilanglah Berkah

Kamis, April 3rd, 2008

Pada saat kita mengejar “jumlah” — baik baik itu berupa target sales, angka shrinkage, margin, performance, penilaian atasan, atau pencapaian yang terukur apa pun – pada saat itu pula seringkali kita jadi terjebak pada kepentingan jangka pendek. Kepentingan sesaat, untuk diri kita atau kelompok kita.

Pada saat kita mengejar “jumlah”, akan muncul banyak kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan. Sehingga kita mengkondisikan terjadinya penyimpangan. Tahu adanya penyimpangan atau pelanggaran, namun memberikan kelonggaran, toleransi, pura-pura tidak tahu, membiarkan adanya penyelewengan, bahkan kita sendiri yang menyuruh orang lain untuk melakukannya. Hingga pada akhirnya merekayasa dan mempersiapkan sejumlah alasan yang masuk akal.

Karena repot mengejar “jumlah”, kita jadi lupa mengejar berkah. Lalu kita memanipulasi data, mengkondisikan sedemikian rupa lubang-lubang high-modus yang diyakini dapat menutupi segala kelemahan dan kekurangan kita. Dan tanpa sadar muncullah ketakutan-ketakutan. Takut kehabisan, takut dinilai tidak mampu, takut dinilai jelek, unproffesional conduct, dan lain sebagainya.

Karena sibuk mengejar “jumlah” juga, tanpa sadar kita pun jadi sibuk mengejar apresiasi, penghargaan, pengakuan, prestasi dan kesuksesan di mata rekan sekerja, di mata rekanan, dimata atasan, manajemen dan semua manusia yang mengenal kita. Lalu kita pun jadi sibuk beribadah kepada manusia, tidak mempersiapkan mati, terus merindukan pujian dan begitu seterusnya : terjebak dalam pusaran dan jebakan syetan. Audzubillah himin dalik.

Saudaraku, marilah kita sekarang menyibukkan diri untuk mengejar berkah, insyaallah kita pun akan mendapatkan “jumlah” dalam jumlah yang terpelihara. Mengalir terus seperti air zam-zam yang tak kan pernah kering, atau pun banjir. Secukupnya, bersahaja, berkah, insyaallah segalanya akan menjadi mudah dan dimudahkan, nikmat penuh rasa syukur, dan mampu memaknai setiap kejadian dengan hati dan pikiran yang berkelimpahan. Amin.

Bibit Kacang Hijau yang Tak Bertumbuh

Kamis, Maret 6th, 2008

Seorang teman mengirimkan kisah ini kepada saya dan tak diketahui dari mana asalnya. Dikisahkan bahwa sebuah perusahaan telekomunikasi di Italia sedang mencari satu tenaga teknis untuk menangani salah satu departemen dari perusahaan tersebut.

Begitu banyak yang datang melamar dan menjalani ujian tertulis. Namun sesudah ujian tertulis ini, semua peserta diberi pekerjaan rumah, setiap orang diberi semangkok bibit kacang hijau untuk disemayamkan. Dan setelah jangka waktu yang diberikan setiap orang harus membawa pulang bibit kacang hijau yang telah tumbuh segar ke perusahaan tersebut. Siapa yang berhasil merawat kacang yang tumbuh paling segar akan memperoleh posisi pekerjaan yang dikejar banyak orang karena memberikan jaminan gaji yang tinggi tersebut.

Setelah jangka waktu yang diberikan itu para peserta ujian kembali lagi ke perusahaan sambil membawa bibit kacang hijau yang telah bertumbuh segar menghijau.

Setiap orang memamerkan hasil usaha mereka dan dalam hati berharap bahwa ia akan memperoleh posisi yang bagus tersebut. Nampak seketika bahwa team penilai akan sulit memutuskan siapa yang jadi pemenangnya karena semua membawa bibit kcang yang telah bertumbuh itu sama bagus dan sama segarnya.

Setelah diabsensi ternyata satu orang tidak muncul di tengah para peserta. Sang manager perusahaan lalu menelpon pelamar yang tak hadir itu dan menanyakan alasan ketidak-hadirannya.

Orang tersebut dengan penuh penyesalan serta rasa bersalah memberikan alasan ketidak-hadirannya saat ini. Ia mengatakan bahwa bibit yang diberikan itu hingga saat ini belum bertumbuh pada hal ia sudah berusaha memberi pupuk, memberi air yang cukup. Semua persyaratan yang dibutuhkan agar bibit kacang hijau bertumbuh subur telah dipenuhinya, namun anehnya, bibit tersebut seakan berkepala keras tak mau bertumbuh.

“Aku berpikir bahwa aku pasti gagal untuk memperoleh posisi dalam perusahaan telekomunikasi ini. Karena itu saya memutuskan untuk tidak datang hari ini ke perusahaan bapa.” Dan justru di saat ketika orang itu akan meletakan gagang telephonya, sang manager memberikan kata-kata yang sungguh di luar dugaannya;

“Engkaulah satu-satunya yang diterima perusahaan kami. Profisiat!” Orang itu heran dan kaget tak percaya.

Sesungguhnya, bibit kacang hijau yang dibagikan kepada para peserta tersebut adalah bibit yang telah diproses sehingga tak bisa bertumbuh lagi. Perusahaan akan dengan mudah mengetahui peserta mana yang jujur. Dan ternyata hanya seorang yang yang tak mampu membawa bibit kacang yang telah tumbuh. Dan dialah orang yang dipilih itu.

“Inilah prinsip kami, nilai moral dalam pekerjaan lebih ditinggikan ketimbang keberhasilan dalam bekerja.” Demikian sang manajer menjelaskan.

Beri perhatian lebih pada karakter dari pada reputasi, karena karakter adalah diri sebenarnya, sementara reputasi hanya anggapan orang tentang anda.

Cerita ini kami dapatkan dari Norma Sari Dewi (06/03/2008 15:48). Tks.

Gila : bertindak sama, mengharapkan berbeda !

Rabu, Maret 5th, 2008

Fren, pernahkan diantara kita mengeluh tentang pekerjaan? Entah suasana yang tidak enak, bos yang semaunya, gaji yang kurang, dan lain sebagainya. Saya yakin pernah.

Mengeluh sebenarnya hal yang wajar, karena dengan mengeluh (curhat gitu loh) mampu menurunkan stress sampai 50%. Jadi bisa membantu diri kita menjadi lebih rileks. Tapi jika kita mengeluh untuk hal yang sama berulang-ulang kepada orang yang sama pula, maka itu menjadi suatu hal yang tidak masuk akal (irasional). Dan orang yang mendengar pun akan menjadi bosan dan menghindari kita.

Ada seseorang yang mengeluh kepada temannya, “Di kantor saya gajinya kecil, mana bos nggak becus, suasana kerja yang enggak enak, pokoknya bikin pusing deh”. Orang ini mengeluhkan hal yang sama, hampir setiap hari kepada orang yang sama. Tapi dia tidak melakukan apapun untuk merubahnya! Ini artinya dia mengharapkan hasil yang berbeda dengan melakukan hal yang sama. Ini bisa dikategorikan gila……  

Ilustrasinya simple, misalnya kita hendak menuju Bandung dari Jakarta dalam waktu yang lebih cepat. Tentu kita akan menggunakan jalan tol Cipularang (tahu kan?). Pasti sampe dan cepet. Terus kita mau berubah tujuan ke

Bogor, tapi jalan yang kita lalui masih tetap sama, jalan tol Cipularang. Sampekah? Tentu tidak. Kalau pun sampe, pasti ekstra lama. Terus kita menyalahkan orang lain, jalan yang salah, sudah banyak perumahan di kanan-kirilah, dan lain sebagainya. Siapa yang gila?

Dalam keseharian kadangkala secara tidak sadar kita melakukan hal tersebut. Jika kita menginginkan adanya perubahan dari kondisi saat ini yang tidak atau kurang menyenangkan, maka kita harus melakukan sesuatu. Dan yang pertama kali harus kita lakukan adalah merubah diri kita, pola pikir kita, mindset kita, paradigma kita, sikap kita, hingga kita mampu mengembangkan diri kita menjadi yang lebih baik lagi.

So, jangan sampai kita dibilang orang gila……

Amit-amit deh!

* Frizal Ramayanta

Masalah yang Sangat Tidak Bergengsi

Selasa, Maret 4th, 2008

Setiap orang pasti pernah mengalami masalah. Dari mulai yang ringan sampai dengan yang terberat. Dan tidak jarang masalah yang datang terjadi berulang-ulang.

Pantaskah masalah yang sama datang beulang-ulang? Mungkin diantara kita sering bertanya, “Kok bisa sih hal ini terjadi lagi? Kan ….”  Jika ini yang terjadi, maka kita perlu merenung sesaat, pasti ada yang salah (bukan siapa yang salah lho….).

Setiap dari kita  sebenarnya sudah tahu apa yang harus dilakukan pada saat masalah, namun seringkali tidak mau melakukan karena takut dengan konsekuensi yang akan kita hadapi yang mungkin akan mengganggu kenyamanan kita.

Bila kita “belum mengerti” atau belum berpengalaman, beberapa tips berikut ini kiranya dapat membantu Anda untuk bersikap proakif, antara lain :

Pertama, kenali dulu masalahnya secara seksama (istilah kerennya identifikasi masalah secara menyeluruh). Pastikan kita fokus kepada sumber masalah dan  bukan siapa yang harus disalahkan. Apakah masalah bersumber dari prosedur, pengawasan, atau manusia?

Kedua, setelah tahu sumber masalah segera diskusikan dengan orang yang berkompeten untuk mencoba mencari berbagai alternatif solusi. Pilih salah satu solusi yang terbaik, dari segi waktu, biaya (means money), dan tenaga.

Ketiga, fokus pada alternatif pilihan. Kenapa? Karena jika kita tidak fokus pada satu pilihan, maka usaha menyelesaikan masalah akan menjadi bias. Dan penyelesaian masalah dengan cara berubah-ubah akan memakan waktu, biaya, dan tenaga yang jauh lebih bayak. Celakanya hal ini malahan bisa tidak menyelesaikan masalah.

Ada satu contoh menarik yang saya peroleh dari peluncuran pesawat ulang-alik. Sebelum pesawat diluncurkan, posisi pesawat disesuaikan dengan orbit tujuan. Semua dipersiapkan dengan seksama, namun tentu ada hal-hal diluar dugaan. Setelah pesawat mengangkasa, dalam perjalanannya dia ternyata melenceng dari tujuan beberapa derajat karena tiupan angin. Apakah orang di pusat kendali mengatakan “Stop, pesawat keluar jalur. Bawa lagi turun dan kita coba lagi dari awal”? 

Tentu saja tidak. Yang mereka lakukan adalah menyalakan roket pendorong kecil di sisi pesawat agar si pesawat angkasa kebali ke jalurnya. Demikian pula dengan penyelesaian masalah kita. Apabila kita rasa belum maksimal, di mana kurangnya harus segera kita perbaiki.

Keempat, pastikan ada pengawasan (kontrol) yang ketat. Jika hal ini dilakukan di suatu institusi, pengawasan harus dilakukan oleh divisi / departemen yang bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya dan berada pada posisi netral. Atau lebih baik dari luar institusi.

So, jika hal-hal di atas kita lakukan, rasanya sih sangat tidak bergengsi jika masalah yang sama menimpa kita berulang kali.

Mungkin dari rekan-rekan pembaca ada yang memiliki ide atau masukan?

* Frizal Ramayanta – Praktisi “Retail Risk Management”

Not Me, Boss !

Rabu, Februari 27th, 2008

Artikel ini saya dapatkan dari sahabat saya, Norma Sari Dewi. Sudah cukup banyak artikel, insight dan inspirasi yang saya dapat dari dia. Dan inilah salah satu diantaranya :

Ini cerita dari seorang teman yang bertahun silam pergi ke Papua New Guinea untuk urusan bisnis. Ia ditemani oleh dua orang temannya dan tinggal di sebuah rumah di pedalaman. Rumah ini dirawat oleh seorang lokal, yang tugasnya hanya dua yakni merawat rumah dan memasak.

Semuanya oke-oke saja, kecuali satu hal: mereka punya satu botol anggur yang mahal yang disimpan di ruang makan, yang setiap harinya sepertinya terus berkurang padahal mereka tidak pernah meminumnya. Anggur ini mahal dan mereka ingin menyimpannya untuk acara spesial. Yang mereka temukan adalah setiap hari jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang.

Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebut, mereka menemukan memang jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari, walau sedikit demi sedikit.

Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain sang penunggu rumah lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di rumah.  Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu mereka letakan kembali seperti biasa. Dan yang mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti halnya anggur.

Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur. Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang meminumnya!

Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut “Not me, Boss! Selama ini saya hanya selalu pakai untuk keperluan memasak untuk para Boss!”.

Moral kisah :

  • Kalau bisa bertanya, kenapa berasumsi?
  • Kalau bisa sederhana, kenapa dibuat rumit?
  • Kadang kita justru mendapatkan akibat dari perbuatan kita sendiri, yang sebenarnya tidak perlu. *****

Nafsu untuk Menjadi Baik

Selasa, Februari 19th, 2008

Suatu pagi ada seorang Branch Manager mengirim SMS. Isinya keluhan mengenai hasil kinerja dari kacamata salah satu Departemen Risk Management yang menempatkan kantor cabangnya berkategori resiko Commitmen Zone (Medium Risk), bukan Hope Zone (Low Risk) sebagaimana yang diharapkan manajemen. Katanya, “Aku nelongso loh hanya masuk kategori biasa-biasa saja, aku mau masuk ketegori sangat standar, aku mau 2008 harus bagus. Boleh toh orang nafsu jadi baik. Tq.”.

SMS berikutnya, setelah kami beri semangat dia menjawab, “Aku sih ngaak suka pasrah nerima nasib, not my style, tapi kadang ini jadi kendala buat orang lain yang marah kena imbas ‘nafsu’ku, hehe….”.

Dia begitu gemas, karena selama ini dia sudah merasa sungguh-sungguh dan senantiasa Well Done. Ya, ini mungkin karena dampak pemeringkatan yang telah disampaikan melalui email kepada seluruh kepala cabang, dan penempatan pada zona resiko yang telah disampaikan pada saat rapat kerja nasional di kantor pusat.

Kami pikir, dia orang kooperatif, sungguh-sungguh dan bertanggungjawab. Hanya saja, kadang kita ini terlena dengan hasil sejarah yang bagus dan lupa mempertahankan kinerjanya. Atau mungkin saja karena standar kinerja setiap tahun kita upgrade, hingga kali ini dia lengah untuk mengikuti tuntutan yang lebih tinggi, lebih cepat dan lebih presisif. Ya, semua itu bisa saja terjadi.

Yang jelas, sebagai Leader Pembaharu… suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, baik untuk kepala cabang, juga terutama untuk staff Risk Management : harus siap tidak favorit di mata orang-orang berparadigma lama. Juga dimata orang-orang yang selalu curigation atau yang auranya negative thingking melulu. Karena kita dibayar, karena kita punya tugas, karena kita dituntut dalam profesionalisme kita dan karena nurani kita, justru untuk Service through Solution.

Betul tidak ? Merdeka !

Kesuksesan-Kesuksesan Kecil…

Rabu, Januari 30th, 2008

Kalau saja kita memfokuskan diri

Pada kesuksesan-kesuksesan kecil setiap hari

Maka kita akan terpicu, termotivasi dan terinsinpirasi

Saat melihat dan menikmati

Kesuksesan-kesuksesan besar para pengukir prestasi 

Semua Berbenih dari Hati…

Rabu, Januari 30th, 2008

Hati itu fondasi

Hati itu cerminan diri

Hati itu mewarnai akal budi

Hati itu pijakan aksi

Hati itu hulunya prestasi

Semua ‘kan termaknai bila berawal dan bernafaskan hati nurani 

Bercinta untuk Syurga

Rabu, Desember 19th, 2007

Mari kita BERCINTA untuk syurga

dengan mengasihi, melayani dan berbagi

Sebersahaja dan sesederhana sahabat-sahabat Nabi

Murni dan mulia dalam genggaman kasih-sayang-Nya

Kesuksesan yang Lebih Berarti

Rabu, Desember 19th, 2007

KESUKSESAN akan lebih berarti

bila dinikmati oleh orang-orang yang kita cintai

Mari kita lakukan yang terbaik untuk mereka

terlebih bila itu dapat menginspirasinya selalu

saat kita telah tiada…