Bad Leadership
Kamis, Juli 29th, 2010Senin kemarin, seorang peserta workshop yang baru saya kenal di sebuah acara workhsop di Jakarta, bercerita ini itu. Semula mengenai pekerjaan, kemudian entah mengapa pembicaraan beralih pada tema kepemimpinan.
Alhamdulillah, isi pembicaraannya sangat menarik. Ia menyampaikannya kepada saya mengenai beberapa ciri kemampuan leadership seorang pemimpin yang buruk.
Entahlah, apa pendapatnya ini ia alami di kantornya sendiri, atau hanya sebuah kumpulan pengalaman dari berbagai bosnya yang terus berganti. Yang jelas, dengan izinnya, saya kemudian cepat-cepat menuliskannya pada fasilitas note di mobilephone saya.
Anehnya, dari cara dia menyampaikan yang nampak agak emosional, rasanya sih apa yang ia ungkapkan itu seperti yang ia alami sekarang. Untuk mendapat ‘pencerahan’ dan membantunya meringankan ‘beban pikiran dan pekerjaannya’, yang bisa saya lakukan waktu itu adalah mendengarkannya secara empatik, dan menanggapinya secara professional.
Yang jelas, bagi saya, ini sebuah pelajaran dan pembelajaran yang bisa kita ambil manfaatnya kedepan.
Ciri-ciri yang ia ungkapkan itu, antara lain :
1. Tidak punya visi, strategi dan konsep yang tertulis. Bahkan dia sendiri tidak mampu menyampaikan apa saja masalah yang selama ini terjadi dan harus mengkonsolidasikan pada tindakan prioritas apa yang harus dilakukan. Ya, jika dia tidak punya program yang jelas bagaimana mungkin ia mampu menjawab dan mensupport usernya setidaknya untuk setahun kedepan !
2. Tidak atau sangat minim berkoordinasi dengan “peer group-nya” sendiri. Kata teman saya, “GM kan harus banyak berkoordinasi intens dengan GM, kan? Begitu juga, senior manager harus banyak berkoordinasi dengan senior manager. Artinya, bagaimana dia bisa kerja dengan baik, bener dan efektif, kalau kerjanya selama ini hanya instruksi ke bawah dan sungkem keatas?”.
3. Tidak memiliki time management yang baik, presisif dan ketat, dan hanya mengandalkan mood dan ingatan, sedangkan fisik tidak mendukung sehingga banyak lupa sana, lupa sini. Parah.
4. Salary diatas rata-rata, performa dibawah standar. “Selera bintang lima, kemampuan hotel bintang 1 dan mungkin melati”, kata teman saya dengan intonasi yang meninggi.
5. Hanya memilkirkan penghematan budget tanpa memikirkan dampak risikonya. Baginya penghematan budget adalah harga mati, tanpa memberhatikan efek berantai dari potensi risiko penghematan budget dan tak memperhatikan aspek-aspek penting terkait lainnya. Bahkan tak jarang sangat mengganggu kelancaran operasional di divisi lain yang berhubungan dengan divisinya.
6. Lebih tertarik kepada hal-hal teknis daripada perbaikan keseluruhan secara terintegrasi. Akibatnya, hari-hari selalu disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan mendesak yang tak penting. Akibatnya manajemen waktunya buruk, sangat tergantung pada bawahan dan seringkali mengganggu bawahan yang tetap fokus untuk melakukan pengembangan di departemennya. Indikasinya sangat jelas terlihat, dia juga suka grasa grusu ke bawahannya jika ada teguran dari puncak management.
7. Fokus pekerjaan hariannya lebih fokus pada pelaporan dan menjawab masalah-masalah layaknya customer service atau petugas informasi di pusat perbelanjaan. Dia tidak fokus untuk bagaimana membangun system yang lebih baik, lebih presisif dan lebih efektif dengan prinsip kaizen atau (CANI) Constant And Never-Ending Improvement.
8. Lebih memilih melepaskan tanggungjawab daripada fokus ke solusi. Pikirannya hanya siapa yang salah ini, siapa yang harus bertanggungjawab, seberapa salah dan apa sanksinya. Bukan kepada lapis pengaman mana yang lemah dan harus diperbaiki. Apakah orang yang salah itu sudah direkrut sesuai kualifikasi, apakah ia juga sudah mendapat pelatihan dan coaching yang memadai dari atasannya sendiri, apakah infrastruktur atau fasilitas kerjanya cukup memadai, dan apakah prosedur kerjanya sudah cukup baik dan tak perlu di-review lagi ?
9. Meminta bantuan atau dukungan anak buah untuk bekerja tanpa pernah memperhatikan apresiasi yang seharusnya diberikan kepada anak buah. Ya, dengan kata lain, dia tidak pandai memelihara performa anak buah yang baik dengan tidak memberikan apresiasi yang sesuai dengan kinerja dan prestasinya. Sepertinya, baginya apresiasi hanya pantas disandang oleh dirinya untuk keuntungan diri sendiri.
10. Tidak cakap dalam merekrut orang yang qualified. Misalnya, turn over anak buah yang tinggi, atau termasuk sekretaris sendiri, menunjukkan lemahnya kemampuan dalam memilih dan memilihara anak buah.
Terakhir ia pun mengeluh, “Anehnya mas, ia masih terpakai sekarang dan memasuki tahun ke-5 !”
Teman saya yang nimbrung belakangan di tengah pembicaraan, langsung menimpali. “Oh, itu sih karena dia ‘pandai membawakan diri di depan atasannya sendiri’. Iya, kan ?”

