Facebook, Ikatan Karyawan & Promosi Outlet
Rabu, Februari 24th, 2010Fenomena penggunaan Jejaring Sosial, khususnya Facebook, pada perusahaan ritel yang memiliki outlet/kantor cabang yang tersebar di sejumlah daerah, oleh Divisi Risk Management harus selalu diamati
Kenapa?
Karena dewasa ini, penggunaan yang mengatasnamakan perusahaan atau outlet yang bersangkutan, kini dirasakan perlu diantisipasi atas dampak kerugian yang mungkin timbul kemudian.
Dampak negatif yang terjadi, seringkali disebabkan karena beberapa alasan, antara lain :
- Belum adanya aturan baku dari perusahaan untuk pemanfaatan media jejaring social ini.
- Kebutuhan di lapangan untuk memanfaatkan media jejaring social untuk promosi yang dirasakan berbiaya sangat murah, cepat, real time, luas dan massif.
- Adanya teknologi dan aplikasi jejaring social yang semakin user friendly, mudah dan murah. Sementara biaya promosi dengan cara “konvensional” dirasakan berbiaya tinggi, alias mahal.
- Adanya fenomena “belum gaul bila belum nyentuh Facebook” yang mana efektivitas dan pengaruhnya pada sales dan kinerja perusahaan belum terukur dengan baik, lengkap dan kredibel.
- Tidak adanya tujuan yang jelas, terprogram dan terukur atas penggunaan fasilitas Facebook yang dicanangkan oleh Pimpinan Kepala Cabang/Outlet.
Beberapa masalah di lapangan yang timbul antara lain, lebih karena ketidakmampuan Pengurus/Petugas yang ditunjuk untuk memanfaatkan jejaring social secara professional, proporsional dan etis.
Beberapa masalah yang timbul antara lain adalah karena pemanfaatan semua fasilitas yang tidak standar, yaitu :
#1. Profil foto. Ada yang menggunakan gambar gedung, ada yang menggunakan logo lama, ada yang menggunakan logo baru, ada yang menggunakan event promosi terbaru, dlsb
#2. Penggunaan logo, bahkan ada yang direkayasa ulang sehingga tidak menampilkan logo asli yang sesungguhnya dipakai perusahaan. Ya, kelewat kreatif dan kelebihan energi sepertinya…
#3. Penggunaan tag berbeda. Dikhawatirkan konten, kemasan dan “positioning” yang dimunculkan tidak sesuai, bertolak belakang atau menghambat upaya yang ingin dibangun oleh perusahaan (melalui Divisi Marketing, dan Public Relation)
#4. Alamat email. Ada yang menggunakan ymal.com, atau gmail.com. Ada yang menggunakan email atas nama pribadi, ada juga yang menggunakan alamat institusi dengan gmail/ymail, bukan dot.com milik perusahaan.
#4. Isian “Informasi Umum” serta “Pendikan dan Pekerjaan”, juta profil lainnya dari Pendiri Grup FB, diisi asal-asalan, tidak jelas, dan terkesan tidak profesional. Bila pendiri terkesan tidak professional, biasanya grup FB yang dibuatnya pun nampak kemasan dan kontennya tidak professional juga.
#5. Kolom antar muka tidak sama. Ada yang hanya info saja. Ada yang lengkap dengan Dinding, Forum Diskusi, Foto, Video, Acara, namun isinya kosong melompong atau isinya tidak sesuai dengan tujuan promosi. Seperti adanya foto artistik namun bisa dikonotasikan semi pornografi, foto pacar, dll., semua masuk tanpa penjelasan dalam konteks apa foto itu dimunculkan.
#6. Fasilitas keamanan berinteraksi dan sistem moderasi tidak diperhatikan, sehingga ada yang berpromosi di account sebuah outlet yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan acara atau bisnis inti perusahaan. Promosi ini pun bukan menjadi bagian dari promosi dari Marketing Lokal, Marketing Regional, atau pun Marketing Kantor Pusat (Nasional). Atau, bisa jadi ada “benturan kepentingan” dengan memberikan kesempatan kepada orang yang dikenal untuk mendompleng promosi pada account sebuah outlet.
Bentuk kesalahan yang lain, antara lain :
#1. Petugas yang ditunjuk sudah lama mengundurkan diri, dan tercatat di perusahaan lain namun masih “sukarela membantu” promosi pada perusahaannya terdahulu.
#2. Petugas tidak cukup friendly menjalankan facebook
#3. Petugas yang bertanggungjawab mengelola account telah mutasi / pindah ke kantor cabang lainnya.
#4. Petugas yang ditunjuk sibuk mengurus pembukaan outlet baru dan tidak ada petugas lainnya yang menggantikan (tidak ada back up system), sehingga bisa sampai 7 bulan isi / konten promosi tidak update.
#5. Diberitakannya hal-hal yang sensitive. Seperti : perolehan sales sekian trilyun yang telah dicapai. Padahal data ini adalah data sensitif yang hanya diberikan kewenangan mempublikasikannya oleh pejabat Public Relation dan Management yang ditunjuk.
#6. Petugas yang ditunjuk adalah satu orang petugas level rendah, tanpa pemantauan / supervisi secara ketat dan reguler.
#7. Perlu ada kesepakatan bersama antara SO, Marketing, IT dan Risk Management untuk mengelola peluang ini, sekaligus untuk meminimalisasi dampak negatif atau kontraproduktif yang mungkin timbul.
#7. Pimpinan kepala cabang / outlet dan wakil kepala cabang tidak memantau secara rutin sehingga sejumlah penyimpangan terpublikasi secara luas dan fatal.
Jadi solusinya bagaimana :
- Dalam jangka pendek, hapus semua account FB outlet yang berhubungan dengan nama perusahaan.
- Buat aturan bersama antara Risk Management – Operational – HRD – Marketing – IT – Public Relation. Panduan baku dari Divisi terkait ini diharapkan dapat meminimalisasi risiko negatif yang mungkin timbul.
- Pisahkan antara account untuk kepentinga Ikatan Komunikasi Karyawan (sebaiknya sifatnya tertutup, dengan keamanan moderasi yang ketat dan berlapis) dengan account FB yang khusus diperuntukkan untuk kepentingan Promosi Outlet / Promosi Regional.
- Rancang kemasan dan isian promosi ini dengan baik, lengkap dan profesional. Dan tunjuk petugas khusus (minimal dua orang setiap outlet) untuk mengelola account ini.
- Bila sudah siap, lakukan pilot project. Bila sudah oke, dan hasilnya terukur positif, lakukan proses ”copy & paste” strategi ini ke outlet-outlet lainnya.
So, ada yang mau menambahkan ?