Halaman Utama


Archive for the ‘RISK MANAGEMENT’ Category

Social Networks Manager

Selasa, Maret 2nd, 2010

Bagi perusahaan besar skala nasional yang memiliki banyak outlet atau kantor cabang, atau memiliki jaringan komunikasi yang luas ke sejumlah daerah, kini sudah waktunya melirik, mempelajari dan mempertimbangkan adanya Social Networks Manager.

Posisi penting ini dilatarbelakangi karena semakin pesatnya jumlah pengguna jejaring social seperti Facebook dan Twitter.

Dalam konteks Retil Risk Management, peran Social Networks Manager ini sangatlah penting untuk mengenalkan dan mengusung program perusahaan, sekaligus untuk membentuk opini dan brand yang kuat.

Syaratnya, tentu saja ia harus seorang yang telah lama bergelut dengan media social, lebih tepatnya seorang pecandu jejaring sosial yang beretos kerja tinggi dan bertugas untuk mengelola sejumlah akun di berbagai media social setidaknya di Facebook, Twitter, dan MySpace, serta mampu bekerja di bawah tekanan dan deadline, serta yang pasti mau ditempatkan di Kantor Pusat perusahaan.

Karenanya, Social Nerwork Manager ini tentu saja kerjanya berbarengan dengan Corporate Communication, Dept. Public Relation, Divisi Marketing, Industrial Relation – HRD, dan Risk Management.

Intinya ia berperan penting dalam penyebarluasan agenda, acara, event penting dan promosi perusahaan, dan memantau semua media online yang memberitakan aktivitas perusahaan. Mulai dari keluhan pelanggan, hingga “pembicaraan-pembicaraan dan pernyataan-pernyataan” yang berkonotasi negatif atau tak sejalan dengan visi-misi perusahaan.

Berita-berita yang “kontraproduktif” mengenai perusahaan dan cabang-cabangnya, perlu segera direspon sesuai standar penanganan yang diberlakukan perusahaan.

Peran lain dari Social Networks Manager ini, juga berperan penting untuk menyebarluaskan berita-berita gangguan operasional perusahaan yang mungkin akan mengurangi kekurangnyamanan customer-costomer yang telah datang, atau bahkan akan datang. Sehingga mereka akan mengetahui pasti, kapan kita siap melayani mereka dan mereka tidak kecewa karena ketidaksiapan kita melayani mereka.

Sampai disini, adalah yang ingin menambahkan?

PAR, LPO & CIS dalam Asuransi

Selasa, Februari 2nd, 2010

Sebelum kita meng-asuransikan outlet / kantor cabang kita, beberapa hal dibawah ini penting kita perhatikan :

1. Sebelum mengambil PAR (property all risk), pilih saja secara sederhana apakah termasuk area Earthquake atau tidak. Biasanya pihak asuransi memiliki Earthquake Insurance Zone for Indonesia. Bila kita tidak memiliki, cukup cari saja di peta zona geologi gempa bumi dari BMKG, PIRBA (Pusat Informasi Riset Bencana Alam), atau BNPB.

2. Untuk LPO yang biasanya meng-covere : riot, strike, malicious damage sebaiknya diambil. Terkecuali lokasi outlet / kantor cabang tersebut benar-benar aman, gedungnya baru dan berada pada “ring satu” barometer keamanan ibu kota propinsi.

3. Aspek Fire sebaiknya wajib diikutsetakan, terutama bila gedungnya berada diatas usia 15 tahun dan track record untuk aspek safety-nya kurang bagus.

4. Tak perlu mengambil Business Interuption bila outlet / kantor cabang kita berada di radius kurang dari 3 km dari tempat-tempat yang relatif pengamanannya kuat dan ketat, seperti dekat Kodam, Polda atau istana negara.

5. Masukkan Cash In Transit dalam perhitungan asuransi.

6. Masukkan nilai Renovasi bila ada.

7. Hitung nilai Stock Barang/Merchandise, Fixed Asset (equipment, instalasi, vehicle) dan nilai Renovation-nya (catatan terakhir nilai renovasi). Masing-masing angka yang dikeluarkan terinci nilai Cost-nya, akumulasi penyusutannya (ACCM) dan nilai NBV-nya.

8. Ikuti dan pantau terus setidaknya peta keamanan internal (building management) dan eksternal (sosial dan politik), guna mempertimbangkan kembali pada saat jenis-jenis premi asuransi akan kita ambil di kemudian hari.

9. Lakukan pekerjaan rumah dengan cara me-reevakuasi fixed asset yang sudah rusak atau diatas kertas sudah nol, termasuk memeriksa apakah ada mutasi fixed asset yang lupa atau tidak tercatat namun dalam pembukuan masih ada (tercatat), serta batasan kepemilikan kita sebagai tenant dengan gedung/developer. Evaluasi ini bisa dilakukan oleh Kepala Kantor Cabang (Store Manager/Branch Manager) setidaknya maksimal dua tahun sekali, untuk mendapatkan nilai fixed asset yang sesungguhnya, demi mendapatkan nilai premi yang bagus untuk kita. Sebagai contoh, saat kita membeli TV besar layar datar 3 tahun lalu, bisa jadi harganya sekarang sudah menjadi 1/4-nya. Jadi jelas akan merugikan kita, bila kita tidak secara periodik me-reevaluasi nilai fixed asset yang sesungguhnya.

10. Bila dinilai perlu, ikut sertakan konsultan asuransi yang berpengalaman sebagai Loss Adjuster dan juga berpengalaman setidaknya 10 tahun dalam proses claim asuransi. Pengalamannya seringkali sangat bermanfaat agar kita bisa mendapatkan nilai premi yang bagus, sekaligus juga untuk membantu kemudahan dikemudian hari bila insiden dan proses claim terjadi.

Laki-Laki Lebih Baik Saat Menangani Krisis?

Senin, Nopember 30th, 2009

Temuan dari Dr Andrzej Urbanik dari Krakow Polandia sangat menarik perhatian saya. Katanya ketika dihadapkan pada situasi berbahaya, kaum laki-laki lebih memungkinkan untuk mengambil tindakan yang lebih baik dibandingkan dengan perempuan. Dengan kata lain, laki-laki lebih baik dalam mengambil tindakan jika berada dalam situasi bahaya, namun cenderung kurang menggunakan perasaan atau emosional (http://health.detik.com – 30/11/2009 – Perempuan Susah Mengambil Tindakan Dalam Kondisi Bahaya)

Lebih lanjut Dr Urbanik menemukan, bahwa kaum laki-laki lebih baik dalam mengambil tindakan yang berhubungan dengan tindakan apa yang harus dilakukan untuk menghindari atau menghadapi bahaya dan hal yang terkait dengan proses visualisasinya (imajinasi), tapi cenderung kurang emosional dan hal yang terkait dengan memori.

Namun dalam praktik sehari-hari, saya menemukan bahwa peran laki-laki dan kaum perempuan itu tetap diperlukan di Divisi Risk Management dan Departemen Crisis Management.

Kaum perempuan bisa kita tempatkan sebagai pengamat saat interogasi dilakukan, karena seringkali dia bisa menggunakan memorinya untuk membandingkan pernyataan yang satu di masa lalu dengan pernyataan kini : apakah sejalan dan tidak saling bertentangan atau berubah-ubah? Deteksi kebohongan, rasanya lebih baik dilakukan oleh kaum perempuan daripada kaum laki-laki.

Selain itu, kaum perempuan pun lebih pandai saat diajak berdiskusi untuk membahas suatu masalah. Dia langsung mampu membandingkan suatu kasus di masa lalu dengan kemiripan modus dan solusinya saat kita menghadapi masalah pada waktu sekarang ini.

Begitu pula saat membahas trend masalah dan matrikulasi resiko, tak jarang kaum perempuan mampu mengingatkan hal-hal detail atau dimensi masalah di masa lalu yang diproyeksikan di masa kini, agar kejadian serupa tidak terjadi kembali, atau agar kejadian yang berpotensi terjadi dengan situasi yang hampir sama dapat diantisipasi dan dicegah sedini mungkin.

Alhasil, kami sangat yakin : Tuhan memang Maha Sempurna. Tuhan menciptakan agar kaum laki-laki dan kaum perempuan tercipta dan hadir untuk saling mengisi, menyempurnakan dan hidup penuh harmoni. Termasuk agar masalah, potensi resiko dan suatu kejadian berkategori krisis, kembali normal dan penuh harmoni.